Berita Kriminal

Beberapa Kasus Sindikat Jaringan Narkoba Terbesar di Indonesia

Beberapa Kasus Sindikat Jaringan Narkoba Terbesar di Indonesia – Badan Narkotika Nasional (BNN) sebelumnya telah menyatakan bahwa Indonesia merupakan pasar narkoba terbesar di Asia.

Beberapa Kasus Sindikat Jaringan Narkoba Terbesar di Indonesia

Sumber : nasional.tempo.co

bookmakerscatalog – Berbagai obat yang dijual di sini terserap pasar. Ini berbeda dengan negara lain yang hanya mengedarkan sekitar 5 sampai 6 jenis narkoba di perbatasannya.

Di Indonesia, pecandu mengimpor dan menggunakan lebih dari 60 narkotika. Sebelum pengungkapannya di Batam, polisi dan Partai Nasionalis Inggris telah mengungkap banyak kasus narkotika tingkat tinggi yang melibatkan kelompok internasional.

Dilansir dari inews.id, Ini Beberapa Kasus Sindikat Jaringan Narkoba Terbesar di Indonesia :

1. 1 Ton Sabu di Batam Tahun 2018

Sumber : tribunnews.com

Di daftar buronan (DPO) penyelundupan narkoba jenis sabu Kelas I yang disita di atas kapal MV Sunrise Glory, satu dari tiga pelaku berhasil disita hingga 1.037 ton. Pelakunya adalah Hazard Rochaizad (57 tahun), yang ditangkap di Bandara Hang Nadim Batam, Kepulauan Riau.

Pelaku dilindungi saat WIB menaiki penerbangan Malindo Air menuju Malaysia sekitar pukul 10.00 pada Rabu (26 Desember 2018). Kepala Biro Riset Narkoba Polri Kombes K Yani menemuinya di Polres Barelang, dan diakuinya pelaku adalah pelaku yang paling dicari.

Karena pelakunya adalah calo, maka dia memerintahkan kapal MV Sunrise Glory dari Singapura menuju Malaysia yang ditangkap di perbatasan perairan Indonesia dan Singapura, Selat Singapura.

Ia mengatakan: “Selain empat pelaku yang saat ini divonis hukuman mati, mereka adalah Chen Zhongnan, Chen Jintun, Huang Qing’an dan Xie Laifu. Tiga OPD lainnya masih diburu, salah satunya adalah Roza Izad.” Yani Si kelincahan imigran yang ingin melihat identitas setiap warga negara yang akan pergi juga memastikan bahaya.

Karena pelakunya adalah calo, maka dia memerintahkan kapal MV Sunrise Glory dari Singapura menuju Malaysia yang ditangkap di perbatasan perairan Indonesia dan Singapura, Selat Singapura.

Ia mengatakan: “Selain empat pelaku yang saat ini divonis hukuman mati, mereka adalah Chen Zhongnan, Chen Jintun, Huang Qing’an dan Xie Laifu. Tiga OPD lainnya masih diburu, salah satunya adalah Roza Izad.” Yani Si kelincahan imigran yang ingin melihat identitas setiap warga negara yang akan pergi juga memastikan bahaya.

Dalam pernyataannya, Hazard mengaku memesan MV Sunrise Glory atas permintaan Tuan Go dengan biaya S $ 1.500. Uang itu dibayarkan kepada Hazard secara tunai oleh Tn. Go. Tetapi Hazard hanya mengambil 500 dolar Singapura dan 1000 dolar Singapura lainnya diberikan kepada Rustam. Yani menjelaskan: “Hazard mengakui bahwa dia tidak mengetahui kelebihan di atas kapal.

Namun, ini hanya pernyataan sementara. Karena kami yakin bahwa Hazard tahu tentang rencana tersebut karena dia adalah perantara di kapal.” adalah Penduduk Pulau Sambo setelah Padang di Batam. Namun karena situasi ini, sumber bahaya jarang kembali ke Pulau Sambu.

Sebelumnya, kasus ini terungkap setelah kapal dipindahkan dari Terminal Ba Zhu Ampat ke Terminal Lanal Batam, WFQR Lantamal IV / Lanal Batam Group, BNN Pusat, Bea Cukai Pusat, dan Bea Cukai Batam. Awal mulanya, KRI Sigurot 864 dilindungi oleh pesawat luar angkasa “Sunrise Glory” sebab diprediksi memakai arsip palsu dan sering mengganti benderanya sesuai dengan negara yang dilewatinya.

Proses penangkapan dimulai saat KRI Sigurot-864 sedang berpatroli di perairan Selat Singapura dan menemukan sebuah kapal nelayan berbendera Singapura yang melintasi jalur air tersebut dan memasuki perairan Indonesia. Dalam pemeriksaan pendahuluan, ditemukan bahwa MV Sunrise Glory adalah kapal penangkap ikan yang mengibarkan bendera Singapore dengan 4 awak Taiwan.

Menurut nakhoda kapal tersebut berlayar dari Malaysia menuju Taiwan. Namun, setelah mencocokkan dokumen “port clearance”, kapal tersebut berlayar dari Malaysia menuju Thailand. Semua dokumen di kapal hanya fotokopi atau bukan dokumen asli. Kapal tersebut rencananya akan digunakan untuk memancing di perairan Taiwan. Kapal ini juga ditengarai sebagai kapal hantu karena benderanya banyak. Orang mengira nama kapal ini adalah Sun De Man 66.

Artinya, kapal tersebut kemungkinan memiliki banyak nama dan diduga menjadi target operasional (TO) pengangkut narkoba atau barang selundupan. Tak hanya itu, setelah diperiksa secara detail, tidak ditemukan ikan. Itu juga dilengkapi dengan peralatan memancing, juga tidak. Selain itu, tersangka asing Chen Zhongnan, Chen Zhantun dan Xie Laifu dari Taiwan juga dijatuhi hukuman mati. Pada Kamis (29/11/2018), seorang Huang Qingan lainnya dijatuhi hukuman seumur hidup di Pengadilan Negeri Batam.

Baca juga : Daftar Negara di Dunia karena Kasus Kematian Korona Tertinggi

2. 1 Ton Sabu di Anyer Tahun 2017

Sumber : kabar24.bisnis.com

Tim gabungan Divisi Investigasi Narkotika Polda Metro Jaya dan Kepolisian Depok bekerja sama dengan Kepolisian Daerah Kepulauan Riau dan Pusat Bea Cukai dan Bea Cukai berhasil menyita kapal yang diduga membawa satu ton sabu dari China. Ini hasil penangkapan empat WN Taiwan di Anye, Banten beberapa hari lalu. Empat tersangka ditangkap dan salah satunya tewas akibat perkelahian.

Mereka adalah Chen Weiyuan, Liao Guanyu dan Xu Yongli. Pada saat yang sama, seorang tersangka tewas akibat pertempuran tersebut. Dia adalah Lin Minghui, kepala jaringan. Xu Yongli melarikan diri dalam penggerebekan. Namun, itu dilindungi keesokan harinya.

Kepala Humas Polres Depok AKP Firdaus mengatakan, Minggu, “Ini perkembangan dari kasus sebelumnya. Tersangka sudah ditangkap di dermaga dari Hotel Mandalika Anyer Serang. Seorang tersangka ditembak mati karena perkelahian. 16/7).

Ia menjelaskan, berdasarkan fakta yang didapat, tim gabungan Satgas Merah Putih melakukan intersepsi. Ia kemudian menangkap sebuah kapal yang diduga kuat membawa narkoba sabu dari China dan diangkut ke dermaga eks Hotel Mandalika Anyer Serang. Dia menjelaskan: “Dia ditangkap di perairan Tanjung Beirajit pada pukul 15.00 WIB pada Sabtu (15/7).”

Ia mengatakan, kerja sama tersebut dilakukan dengan Balai Besar Bea Cukai Batam dan Administrasi Umum Bea Cukai menggunakan nomor lambung BC7005. Kapal tersebut sebelumnya ditangkap di dermaga eks Hotel Mandalika Anyer-Serang membawa 1 ton obat sabu. Dari empat warga Taiwan tersebut.

Buktinya diberikan oleh sebuah kapal pesiar, nama spesifikasi kapalnya adalah Republic of Sierra Leone Flag Rover, call sign 9LU2258, panjang: 27,9 meter, lebar 6,45 meter, berat ton: 134 MT, tahun pembuatan 2001. Kemudian Dua perahu karet biru yang satu mesin kelautan Yamaha dan satu mesin kelautan Tohatsu.

Tersangka lain yang diculik di kapal termasuk Cai Zhixiong, Sun Zhifeng, Guo Zhenyuan, Guo Zhenxiong dan Juan Jinsheng. Dia menyimpulkan: “Semua tersangka adalah warga negara Taiwan. Saat ini, tindakan yang dilakukan untuk membawa kapal ke Pelabuhan Tanjung Yunzang di Pulau Batam sudah menghubungi Departemen Kepolisian Taiwan dan berkoordinasi dengan instansi terkait.”

3. 13 Juta Butir PCC di Semarang Tahun 2017

Sumber : tirto.id

Badan Narkotika Nasional (BNN) dan Polda Jawa Tengah bersama-sama menggelar operasi sunyi pada Minggu, 3 Desember 2017, dan menggerebek pabrik pembuatan pil acetaminophen caffeine caroprotol (PCC).Dalam penggerebekan sebuah rumah mewah di Jalan Halmahera Raya Semarang, polisi gabungan menemukan sedikitnya 13 juta pil PCC yang siap disebarkan pelaku ke berbagai wilayah di Kalimantan.

Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso, dalam penyerangan Senin, 4 Desember itu mengatakan: “Kami menangkap 11 pelaku. Mereka membuat jutaan pil PCC. Sebagian besar korbannya adalah anak-anak.” 2017.Budi Waseso mengatakan keuntungan kaki tangan dari penjualan obat PCC mencapai Rp 2,7 miliar per bulan. Budi berkata dengan nada marah, “Dia mendapat miliaran dolar dari meracuni anak-anak.”

Budi Waseso mengatakan, pihaknya telah menjalani pengawasan selama lima bulan untuk mengungkap kasus tersebut. Dari pantauan diketahui pelaku sengaja memanipulasi rumah mewah berwarna putih menjadi tempat produksi pil PCC. Budi mengatakan penggerebekan itu merupakan penemuan yang mengejutkan. Karena semua produksi dikerjakan secara profesional. Di rumah misalnya, ada mesin pembuat pil, mesin pres, mixer, mesin penyaring serbuk PCC.

Selain itu, petugas gabungan juga menemukan barang bukti 13 juta pil dan 156 kilogram bahan cetak siap pakai yang mampu menghasilkan 5 juta pil PCC.Barang bukti lainnya adalah 20 karung Carlo Prodo, 5 karung tepung terigu, 17 tong dan tiga mobil bekas pelaku.

Selain itu, petugas juga menemukan ruang kedap suara. Dia berkata: “Agar tidak tertangkap oleh warga, ini sangat licik dan sangat terorganisir, jadi ini jaringan profesional.” Sebelumnya, Budi melanjutkan, pihaknya juga pernah menemukan kasus serupa di Kepulauan Riau (Kipri). Di sana petugas merampas 12 ton bahan baku pil PCC.

Kapolda Jawa Tengah dan Irjen Condro Kirono (Condro Kirono) akan mengikuti temuan pabrik pil PCC di wilayah tersebut. Ia mengaku masih terus memperdalam penyidikan untuk mengusut tuntas kasus tersebut. Pihaknya kini telah menangkap pemilik pabrik Djoni yang menguasai grup distribusi pil PCC di kampung halamannya di Tasikmalaya. Dia mengatakan: “Kami akan mempelajari peredaran pil PCC. Kami akan membatasi semuanya dalam ruang lingkup UU 36 tahun 2009 (Pasal 197 tentang kesehatan) dan Pasal 106 (1).”

4. 966 Kg Sabu di Teluk Naga Tahun 2006

Sumber : inews.id

Sebagai perbandingan, 966 kilogram kristal sabu menembus dari Hong Kong melalui Teluk Naga hingga Tangerang. Menurut perkiraan polisi, jika obat-obatan terlarang tidak ditangkap, akan menyebar ke distributor dan pengecer, yang bisa membuat 9 juta orang kecanduan, atau jika mereka merokok pada saat yang bersamaan, juga akan memabukkan 48 juta orang. Polisi memperkirakan penjualan eceran pot tersebut setara dengan Rp 1 triliun. Kawasan Banten tampaknya menjadi surga aman bagi produsen dan penyelundup psikotropika.

Belum lama ini, sebuah pabrik yang mampu memproduksi jutaan pil ekstasi dalam sehari ditemukan di Sekander, Serang. Tahun lalu di Tangerang Banten ditemukan pabrik tablet yang mengandung zat adiktif terbesar di dunia. Tahun lalu, polisi menggerebek pabrik ekstasi besar di Kampung Kandang Kambing, Bogor. Ironisnya. Transaksi ganja harus dilakukan secara rahasia, tetapi senjata api dan alat pengisap sabu dijual bebas di tempat terbuka.

Di tengah suasana gempar akibat penangkapan spektakuler itu, para pedagang di kawasan Pancoran, Jakarta Barat, menggelar dagangan negara di trotoar dari siang hingga malam. Bu pot dijual secara ilegal, namun di banyak tempat di Jakarta dijual bebas asap rokok, alat untuk menghisap sabu. Orang awam pasti tidak tahu bahwa tabung dengan tabung kaca adalah penghisap sabu.

Seorang pedagang (31/8) berkata: “Selama ini saya berjualan rokok dengan aman.” Awalnya, sebuah kapal besar yang membawa kristal sabu dari Hongkong jatuh ke perairan Sumatera bagian selatan.

Kargo ilegal dialihkan ke kapal yang lebih kecil di laut dan dikirim ke Teluk Nagar. Kapal tersebut milik Ah Kwang (42), kapten PT Sang Putra Wisma Jaya, yang diduga sering melakukannya. Pada Selasa pagi (29/8) di Jalan Raya Mauk Tangerang, sebuah mobil boks Izuzu Panther berwarna biru disita gerbong boks bernomor B-9105-QD. Mobil tersebut menabrak Bripka (Pol) Heri Prastowo saat mengejar konvoi.

Di lokasi yang sama, polisi menyita mobil Toyota Avanza warna perak bernomor B-1935-JK. Hendra Jhoni, psikiater dan komisaris tinggi paruh waktu Polda Metro Jaya, menceritakan kisah penyelundupan dan kisah dramatis pengejaran dan penangkapan.

Hendra mengatakan, seperti dikutip Alquran Tianbao (31/8), nama alias Ah Kuang Samin Iwan diterima dari Awa, salah satu anggota kelompok sindikat narkoba Hongkong-China-Indonesia. Pada 28 Agustus, Ahua melarikan diri ke Singapura.

Namun, Ah Wah dipanggil Tn. Tuan Lou He Chen, dua orang bos, diduga memiliki hubungan langsung dengan bos besar di Hong Kong. Bos besar juga memimpin jaringan lain di Indonesia. Alias Huang, Herman Chu, ditangkap polisi di Hotel Limas Palembang pada 3 Mei tahun lalu. Jelas, Huang membocorkan informasi tentang pengiriman pengangkutan sabu ke polisi.

Mr. Wong memasok sekitar 100 kg pot (senilai Rp 215 miliar) per bulan. Ia juga memiliki pabrik ekstasi di Chikander, yang diperkirakan terbesar di Asia Tenggara. Saat polisi digerebek (11 November 2005), pabrik itu menyimpan 1,33 ton bahan baku ekstasi dan 138 kg pot.

Polisi telah menetapkan tiga tersangka. A Guang, Wang Yimeng (21), simpanan dari A Hua dan Luli Susanti (20). Mereka beserta barang bukti dibawa ke Polda Metro Jaya. Tuan Ahua Lou dan Tuan Chen dicari oleh polisi.

Herman pula mengatakan kalau polisi lagi melacak rambu-rambu jaringan narkoba internasional yang sama berhasil lolos dari 100 kilogram ganja. Pot jalan tersebut dibawa ke Surabaya melalui jalan darat dan diangkut dengan mobil dari tempat yang sama.

Menurut laporan berita Indonesia, Ah Kwang telah tinggal di Desa Tegal Angus di Teluk Naga sejak tahun 1996. Dia tidak pernah berinteraksi dengan masyarakat, serta rumahnya dikelilingi pagar setinggi 2 m. Masyarakat yang meragukan kegiatan Aguang kemudian melapor ke DPRD Tangerang.

Juli tahun lalu, 10 anggota DPRD dan 3 polisi mendatangi tempat usahanya di Tegal Angus, tapi diusir dari kantor. Menurut polisi, Aguang tergabung dalam kelompok bu pot karena bangkrutnya bisnis terumbu karangnya dengan Ahua. Dalam rangka mengejar ketertinggalan dengan tiga buronan narkoba internasional-Ah Wah, Mr. Lou He Chen-Kapolda Metro Jaya Inspektur Jenderal Adang Firman mengadakan pertemuan dengan agen DEA dan agen CIA di Singapura dan Hong Kong. Mereka juga menginterogasi pak Wong yang adalah pengedar narkoba internasional dengan jaringan di Hong Kong, Singapura, Cina, Belanda dan Indonesia.

Baca juga : Fakta-fakta Kasus Narkoba Jennifer Jill

5. 2 Ton Ganja Aceh dalam Truk Kontainer Tahun 2015

Sumber : jambi.tribunnews.com

Polisi di Jakarta Barat menemukan truk kontainer berisi 2 ton daun ganja. Polisi segera menangkap pengemudi kontainer di tepi Jalur Rute Timur Sumatera Kilometer dekat WIB, Rabu (21 Januari 2015). 28 Desa Simpang Beringin, Kecamatan Bandar Seikijang, Kabupaten Palelawan, Provinsi Riau. Sebelumnya, petugas Polsek Kalideres Jakarta Barat menangkap tersangka lain berinisial ZN dan MN. Para tersangka tersebut telah ditahan di Rutan Polres Kalideres sejak 30 Desember 2014.

Berdasarkan informasi tersebut, diketahui ganja akan dikirim dari Aceh ke Jakarta pada Februari 2015. Setelah dilakukan analisis lebih lanjut, informasi yang didapat menunjukkan bahwa ganja tersebut milik tersangka ZN, dan mereka akan menggunakan truk kontainer nomor Polsek BK 9988 IB untuk membawanya ke Jakarta, yang sudah berada di Pekanbaru, Provinsi Riau. Kapolsek Metro Jakarta Barat Kapolres Narkoba Kapolres Narkoba AKBP Gembong Yudha memimpin operasi penangkapan pelaku dengan membawa truk kontainer berisi 2 ton ganja.

Ia dan tiga anggota lainnya terbang ke Pekanbaru sekitar pukul 06.00 WIB pada Rabu (1 Januari 2015). Setibanya di Pekanbaru, pihaknya menangkap satu truk yang diduga membawa 2 ton ganja pada pukul 11.30 WIB.

Truk tersebut dikemudikan oleh MAD (35 tahun) yang berdomisili di Gampong Meunasah Bie, Kabupaten Pidie Jaya, Aceh. Dari penangkapan tersebut, polisi menyita barang bukti yang disembunyikan di dalam boks truk dengan mengisolasi bungkusan ganja berbentuk bata dan memasukkannya ke dalam boks yang dimodifikasi agar truk tersebut terlihat seperti tidak ada muatan.

Usai penangkapan, penyidik dengan dibantu pengawalan Brimob Polda Riau membawa truk berisi ganja ke Polres Metro Jakarta Barat, Kamis (12 Februari 2015) sekitar pukul 06.00 WIB.Gembong menuturkan, 2 ton daun ganja kering yang dijual seharga Rp 4 miliar. Saat ini, penyidik masih terus memburu tersangka lain yang menjadi sasaran operasi, yakni AM. (Andika Panduwinata).